Tea : “Itu apa?”
Okta : “Itu cowok yang nabrak aku beberapa hari yang lalu!”
Tea : “Mana, Ta?”
Okta : “Yang main drum, Tea!”
Tea : “Ha? Jadi yang nabrak kamu itu Kak Tepe?” (terkejut)
Okta : “Kamu kenal?”
Tea : “Nggak, aku cuma tahu. Mungkin waktu itu dia lagi menghindar dari fansnya, jadi dia nggak lihat kamu terus nabrak kamu, Ta.”
Okta : “Kok kamu tahu? Hayo, kamu suka ya sama dia?”
Tea : “Ya tahulah, aku kan selalu up to date kalau masalah The Jumpers. Apa?! Aku suka sama Kak Tepe? Nggaklah Ta! Aku itu sukanya sama yang itu.” (nunjuk ke arah sang vokalis)
Okta : “Mana, mana, mana?”
Tea : “Vokalisnya, Ta.” (mukanya memerah)
Okta : “Oh kirain. Hmm, aku sih senang kalau kamu nggak suka sama, hmm, siapa tadi namanya? Tempe?”
Tea : “Yang bener Tepe, Okta!”
Okta : “Ya apalah itu namanya.”
Tea : “Kenapa kamu senang Ta? Kamu suka sama Kak Tepe ya?”
Okta : “Amit-amit deh aku suka sama dia! Sama cowok yang tak kenal minta maaf!”
Tea : “Ya sudah Ta, aku ke sana dulu. Da Okta.”
Okta : “Da Tea.”
Beberapa saat kemudian.
Dama : “Kak Okta!”
Okta : “Apa dik Dama?”
Dama : “Kak Okta cantik deh.” (tersenyum)
Okta : “Sudah dik, ngomong aja nggak usah pakai ngerayu segala.”
Dama : “Gantiin aku jadi LO ya, Kak?”
Okta : “Memangnya kamu mau kemana, Dik?”
Dama : “Aku harus pulang, Kak. Mama tadi jatuh sakit. Mau ya Kak?”
Okta : “Iya deh. Kakak nitip salam ya buat Mamamu. Semoga cepat sembuh.” (tersenyum)
Dama : “Terima kasih ya kak. Kak Okta baik deh. Da Kak Okta.” (tersenyum lalu berlari)
Okta : “Da.” (menuju ke tenda putih dibelakang panggung)
(bersambung)
No comments:
Post a Comment