Sesampainya di dalam tenda.
Okta : (dalam hati) “Yah, ketemu sama dia!”
Tepe : (diam)
Theo : (berbisik) “Bro, itu cewek cantik ya?”
Tepe : (berbisik) “Apa bagusnya sih itu cewek?!”
Theo : (berbisik) “Bro, kamu punya masalah ya sama itu cewek?”
Tepe : (berbisik) “Nggaklah! Itu cewek kali yang punya masalah sama aku!”
Theo : (berbisik) “Kok bisa? Memangnya kamu kenal dia?”
Tepe : (berbisik) “Tahu deh! Tadi dia itu asal marah-marah aja sama aku. Kenal dia? Nggaklah!”
Theo : (berbisik) “Aku ke sana dulu ya, Bro.” (menuju ke dekat Okta) “Hai, aku Theo Broma Anggara. Panggil aku Theo. Kamu siapa?”
Okta : (melihat Theo) “Orang ini kan yang disukai Tea.” (berfikir) “Aku?”
Theo : “Iya, siapa lagi kalau bukan kamu?”
Okta : “Aku Tri Okta Sampurna. Panggil aku Okta.”
Theo : “Nama yang bagus. Oh iya, sini aku kenalin ke teman-temanku.” (mendekati Tepe, Haliq dan Dyan) “Okta, ini teman-temanku. Kenalin ini Dyan.”
Okta : “Okta Sampurna.”
Dyan : “Dyan Anjar.”
Theo : “Ini Haliq.”
Okta : “Okta.” (berfikir) “Ya ampun imut banget.”
Haliq : “Haliq Ferdian Junaidi.”
Theo : “Nah, yang ini Tepe.”
Okta : “Okta!” (berfikir) “Males banget deh kenalan sama ini orang!”
Tepe : “Iya, iya, aku tahu kalau namamu Okta!”
Theo : “Dia Teguh Prakoso, Ta.”
Okta : “Kamu itu kenapa sih?!” (marah)
Tepe : “Kamu itu yang kenapa?! Tadi datang-datang langsung kayak orang ngusir aja! Punya masalah apa kamu sama aku?!” (marah)
Theo : (menginjak kaki Tepe)
Tepe : “Theo! Kenapa kamu menginjak kakiku?”
Okta : “Dasar cowok nggak kenal minta maaf!”
(bersambung)
(bersambung)
No comments:
Post a Comment