Tepe : “Kamu bilang apa tadi?! Nggak kenal minta maaf?!”
Okta : “Iya! Kamu kan yang nabrak aku beberapa hari yang lalu sampai kakiku lecet! Terus kamu nggak minta maaf sama aku dan kamu malah kabur gitu aja!”
Tepe : “Kapan aku nabrak kamu?!”
Okta : “Aku nggak tahu kapan pastinya! Tapi kamu pernah nabrak aku!”
Dyan dan Haliq : (ternganga dan bertepuk tangan)
Haliq : “Yan, dahsyat banget ya mereka berantemnya.”
Dyan : “Iya tuh sampai nggak ada titik sama komanya.”
Theo : “Sudahlah, nggak usah pada berantem. Ta, aku sebagai temannya minta maaf ya kalau teman aku yang satu ini punya salah sama kamu.”
Okta : “Oke, aku terima!” (masih marah)
Theo : “By the way, aku boleh minta nomor hpmu nggak?”
Okta : “Buat apa?”
Theo : “Aku mau jadi teman kamu, Ta. Kamu mau kan?”
Okta : “Hmm, boleh.” (berfikir) “Siapa tahu nanti bisa bantu Tea.”
Theo : “Berapa nomornya?”
Okta : “083837373711.”
Theo : “Terima kasih, Ta.” (senang)
Tepe : “Kamu gila kali ya pakai minta nomornya segala?! Lagipula kenapa juga sih kamu mau jadi temannya nenek lampir yang satu ini? Kayak nggak ada yang lain aja!”
Theo : (berbisik) “Pe, kayaknya aku suka deh sama Okta.”
(bersambung)
No comments:
Post a Comment