Keesokan harinya di rumah Okta.
Okta : (turun lewat tangga) “Pagi, Pa. Pagi, Ma.”
Pak Adi dan Bu Dyah : “Pagi juga, Sayang.”
Bu Dyah : “Sini makan bareng dulu.”
Okta : “Nggak usah, Ma. Sudah telat nih, nanti pasti nunggu bus lagi.”
Bu Dyah : “Sekali-sekali kamu itu dianter sama Papa aja biar bisa makan bareng.”
Okta : “Nggak deh, Ma. Nanti aku jadi manja lagi. Biar Okta berangkat sendiri ya Ma.” (tersenyum) “Okta berangkat dulu ya Pa, Ma.” (keluar rumah)
Bu Dyah : “Hati-hati, Sayang!” (teriak)
Okta : “Pasti, Ma!” (teriak)
Bu Dyah : “Dasar anak itu! Selalu semaunya sendiri!” (kesal)
Pak Adi : “Biarkan saja, Ma. Yang penting dia tidak aneh-aneh.” (sambil membaca koran)
Bu Dyah : “Ya sudahlah.” (pakai nada)
Pak Adi : “Nyanyi, Ma?”
Bu Dyah : “Biar gaul, Pa.”
Pak Adi : “Mama ini ada-ada saja. Ya sudah, Papa berangkat dulu ya, Ma.” (keluar rumah)
Bu Dyah : (mengikuti Pak Adi keluar rumah) “Hati-hati dijalan, Pa.” (melambaikan tangan)
(bersambung)
No comments:
Post a Comment